Belajar berani

Posted by dehamzah on August 28, 2016

Satu bulan yang lalu, saya dapat pesan pribadi WhatsApp dari ketua bagian kemahasiswaan kampus. Saya diminta untuk menjadi salah satu pembicara dalam acara Open House STT NF. Saya pun langsung mencoba menolaknya, karena takut dan ga berani. Apalagi katanya modelnya diskusi gitu, dan nanti bakal satu bangku sama Bang Jay CEO nya Badr Interactive. Duh, makin minder dah.

Walaupun saya sudah mencoba menunjukan ke beliau bahwa saya belum pantas untuk jadi pembicara dan saya pun belum siap. Percakapan tetap berakhir dengan tidak menerima penolakan. Lalu, beberapa pekan berikutnya… jeng jeng. Tiba-tiba tersebar poster di social media tentang acara Open House STT NF dan ada foto saya disana.

Panik. Save As fotonya. Lalu kirim ke ketua kemahasiswaan mencoba memprotes. Lalu beliaupun bilang akan membicarakannya ke bagian seksi acara kalau saya belum siap.

Percakapan Berakhir.

Saya anggap mereka akan mencari pengganti untuk saya. Tetapi ternyata tidak begitu, satu minggu sebelum acara tersebut, tiba-tiba ada email masuk dari bapak petugas bagian acara.

“Mohon maaf agak telat kirim TOR nya”, katanya.

Panik lagi. dan saya masih belum bisa menerima. 2 hari kemudian saya baru jawab, mengungkapkan kekecewaan saya.

“Kalau sudah begini tidak ada jalan untuk mundur ya? Mungkin lain kali bisa ditanyakan dahulu kepada saya atas kesediaan bisa atau tidaknya ya pak. Tidak bisa main langsung publish informasi tanpa konfirmasi kepada saya terlebih dahulu.”

dan beliau pun membalasnya seperti ini.

“Ok, Dede Hamzah. Mohon maaf juga, soalnya ini juga atas rekomendasi dosen n pimpinan, saya hanya menjalankan tugas :)”

Sekarang saya yang jadi tidak enak. Beliau sampai meminta maaf seperti itu.

Yap. Kalau sudah seperti ini memang tidak ada jalan lagi untuk mundur. Sepertinya Allah ingin saya bisa. Sayapun mencoba menghibur diri, mulai memikirkan ingin menyampaikan apa nanti.

Setelah acara selesai, ternyata tidak seseram yang saya bayangkan (walaupun pas menyampaikan agak keringetan gitu sih). Dari sini saya belajar:

  • Ketika Allah memberikan ujian, Allah pasti akan memberikan sesuai dengan kapasitas hamba-Nya dan Allah ingin kita bisa level up.
  • Jangan takut selama hal itu benar dan baik untuk diri kita, kita hanya perlu sedikit usaha lebih dan persiapan yang cukup.

dede-hamzah